Neurobiologi dan genetika ADHD

Terus menerus kontroversial, bukti baru yang kuat mengenai dasar biologis ADHD baru-baru ini muncul. Studi berulang telah menunjukkan bahwa memeriksa variabel perancu adalah koefisien keturunan untuk ADHD 8 atau lebih tinggi daripada untuk skizofrenia (7), kecerdasan (5.) atau kanker payudara (3). Informasi ini mengumpulkan bukti yang sangat baik untuk penjelasan biologis ADHD, karena sebenarnya dinyatakan bahwa kemungkinan kembar identik dengan ADHD, jika kembar lainnya memenuhi kriteria diagnostik, adalah 8 dari 10 kali. Survei ini dilakukan di Australia, Inggris dan Swedia, serta di berbagai lokasi di Amerika Serikat.

Dr. Joseph Biederman, salah satu peneliti terkemuka di bidang ADHD, menunjukkan dalam artikel terbaru (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder, Lancet 2005; 366: 237-248) bahwa gen kandidat untuk ADHD juga terlokalisasi. Penelitian lanjutan mendukung kemungkinan bahwa ADHD adalah kelainan genetik di mana kombinasi gen yang berbeda bertanggung jawab atas ekspresi ADHD. Ini termasuk bukti disfungsi sehubungan dengan jaringan kortikal dengan reseptor dopamin D4 dan D5, yang telah terbukti berperan dalam patogenesis ADHD.

Abnormalitas struktural dan studi pencitraan juga secara konsisten mendukung fakta bahwa daerah untai frontal otak sangat penting untuk disfungsi yang berhubungan dengan ADHD. Bukti ini termasuk defisiensi neuropsikologis dengan masalah pengalihan, pengereman, memori kerja, perencanaan dan perhatian yang berkelanjutan. Studi pencitraan telah menunjukkan pengurangan volume di banyak area otak yang berbeda, tetapi terutama di daerah frontal dan cingulate dari otak besar, yang sangat penting bagi banyak fungsi dan keterampilan yang berkaitan dengan perhatian dan keterampilan eksekutif.

Selain itu, efek spesifik dan fungsional dari agen dopaminergik dan noradrenergik yang digunakan untuk pengobatan ADHD didokumentasikan dengan baik dan kuat. Perkembangan terakhir termasuk versi akting yang lebih lama dari kedua obat stimulan dan non-stimulan dan penelitian sangat jelas bahwa efek terapeutik dari obat ini kuat dan unik.

Perlu disebutkan bahwa Dr. Biederman melaporkan dalam artikel yang sama bahwa sering ada keberatan terhadap potensi penyalahgunaan berbagai stimulan. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa obat dengan stimulan memiliki efek pelindung atau profilaksis pada pengembangan penyalahgunaan zat. Ini bertentangan dengan bukti anekdotal yang hanya berfokus pada beberapa orang yang mungkin menyalahgunakan zat-zat ini, daripada menganalisis secara ilmiah data yang relevan.



Source by Scott Howard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *